Friday, March 28, 2025

Guru agama tanpa gaji menerima zakat fisabilillah

 MENJAWAB PROBLEMATIKA USTADZ, KIAI, MADRASAH DAN MASJID MENERIMA ZAKAT


*Disarikan dari mutiara kalam Syaikhina KH. Muhammad Najih Maimoen حفظه الله*


Bismillahirrahmanirrahim, AlhamduliLlahi Rabbil ‘alamin, kaum Muslimin di Indonesia telah diberikan kenikmatan dapat melaksanakan ibadah puasa dan lainnya di bulan Ramadlan tahun 2022 ini. Meski harga-harga komoditas pokok masyarakat sejak masuk awal Ramadlan hingga Idul Fitri kali ini seperti minyak goreng, BBM, beras, sayuran, dan masih banyak lagi kian meroket, namun tidak menyurutkan semangat dan antusias masyarakat dalam meramaikan bulan Ramadlan dan hari raya Idul Fitri yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut.


Serba-serbi Ramadlan dan Idul Fitri, termasuk rangkaian ibadah yang dilakukan oleh kaum Muslimin setelah melaksanakan puasa sebulan penuh di bulan Ramadlan adalah melaksanakan zakat fitrah. Telah diketahui secara umum bahwa zakat fitrah hukumnya wajib bagi seluruh orang Islam yang memiliki kelebihan harta bagi dirinya dan orang yang dia wajib nafkahi pada hari dan malam raya Idul Fitri. Namun yang masih menjadi perbincangan publik adalah siapa saja mustahiq yang berhak menerima zakat fitrah tersebut. 


Syaikh Muhammad Najih Maimoen ikut memberikan atas pertanyaan klasik apakah didalam zakat fitrah ada mustahiq dari jalur fi sabilillah yang memasukkan para kiai, ustadz, masjid, mushola, madrasah, dsb. Beliau menjawab bahwa fi sabilillah tidak ada dalam zakat fitrah (badan) namun adanya pada zakat harta (mal).


Tentang makna fi sabilillah sendiri ada beberapa pendapat dalam Madzhab Empat. Dalam madzab Syafi’i dalam zakat mal fi sabilillah dimaknai sebagai al-ghuzah al-mutathawwi’un yakni orang-orang yang angkat senjata secara sukarela dan tidak mendapatkan jatah dalam fai’ atau uang negara Islam.


أسنى المطالب في شرح روض الطالب - ث - (1 / 398)

الصِّنْفُ السَّابِع في سَبِيلِ اللَّهِ وفي نُسْخَةٍ سَبِيلُ اللَّهِ بِتَرْكِ في وَهُمْ الْغُزَاةُ الْمُتَطَوِّعُونَ أَيْ الَّذِينَ لَا رِزْقَ لهم في الْفَيْءِ فَيُعْطَوْنَ وَإِنْ أَيْسَرُوا وفي نُسْخَةٍ وَلَوْ أَغْنِيَاءَ لِعُمُومِ الْآيَةِ وَإِعَانَةً لهم على الْغَزْوِ


الحاوى الكبير ـ الماوردى - دار الفكر - (8 / 1294)

 والضرب الثاني : هم أهل الصدقات وهم الذين لا أرزاق لهم إن أرادوا غزوا وإن لم يريدوا قعدوا وقد سماهم الشافعي أعرابا فهم غزاة أهل الصدقات يجوز أن يعطوا منها مع الغنى والفقر .


Dalam mazhab Malik ada pendapat bahwa fi sabilillah dimaknai sebagai orang-orang yang mengajar agama dan tidak mendapatkan jatah dari negara atau mendapatkannya namun sedikit sekali semisal setahun sekali atau dua kali seperti di negara kita Indonesia.


شرح خليل للخرشي - (6 / 371)

( قَوْلُهُ : الْفَقِيهُ ) أَيْ : يُدَرِّسُ ، أَوْ يُفْتِي أَيْ : إذَا كَانُوا يُعْطَوْنَ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ وَإِلَّا فَيُعْطَوْنَ ، وَيُعْطَى الْفَقِيهُ وَلَوْ كَثُرَتْ كُتُبُهُ حَيْثُ كَانَ فِيهِ قَابِلِيَّةٌ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِيهِ قَابِلِيَّةٌ لَمْ يُعْطَ إلَّا أَنْ تَكُونَ كُتُبُهُ عَلَى قَدْرِ فَهْمِهِ وَقَوْلُهُ ، وَالْإِمَامُ أَيْ : إمَامُ مَسْجِدٍ أَيْ : حَيْثُ أُجْرِيَ رِزْقُهُمْ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ وَإِلَّا أُعْطُوهَا كَمَا فِي عب


Dalam mazhab Ahmad ada sebagian ulama mengatakan bahwa fi sabilillah dimaknai sebagai munqathi’ul hajji atau orang yang terputus hajinya karena tidak punya uang misalnya orang yang sudah mendaftar haji namun belum jadi berangkat karena tidak dapat melunasi. Jadi hanya itu aja.


كشاف القناع - ث - (2 / 284)

 ( والحج من السبيل نصا ) روي عن ابن عباس وابن عمر لما روى أبو داود أن رجلا جعل ناقة في سبيل الله فأرادت امرأته الحج فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم اركبيها فإن الحج من سبيل الله ( فيأخذ إن كان فقيرا ) من الزكاة ( ما يؤدي به فرض حج أو ) فرض ( عمرة أو يستعين به فيه ) أي في فرض الحج والعمرة لأنه يحتاج إلى اسقاط الفرض.


Adapun zakat mal untuk pembangunan masjid, pondok, rumah sakit, sekolah, dsb  tidak diperbolehkan.

إعانة الطالبين - (2 / 192)

 ( قوله وعمارة نحو مسجد ) أي إنشاء أو ترميما فإن استدان لذلك أعطى ولا يجوز دفع الزكاة لبناء مسجد ابتداء كما في الكردي وسيذكره الشارح قريبا


شرح مختصر خليل - ث - (2 / 219)

( ص ) لا سور ومركب ( ش ) يعني أن الزكاة لا يجوز عمل سور منها ولا مركب على المشهور ومثل السور والمركب : الفقيه والقاضي والإمام قال في الجلاب ولا يجوز صرف شيء من الصدقات في غير الوجوه المبينة : من عمارة المساجد أو بناء القناطر أو تكفين الموتى أو فك الأسارى أو غير ذلك من المصالح


Adapun hukum kebolehan tersebut hanya disebutkan dalam beberapa kitab tafsir seperti dalam Tafsir al-Munir karangan Syaikh Nawawi Banten yang menukil dari al-Tafsir al-Kabir karya Fakhruddin al-Razi, bahwa sebagian mufasir meriwayatkan pendapat dari imam al-Qaffal bahwa yang dimaksud fi sabilillah adalah subulul khair (kepentingan baik). Akan tetapi kutipan ini tidak mu’tamad (kredibel) sama sekali karena Imam Qaffal itu madzhabnya Syafi’i dan sebagian mufasir yang meriwayatkan pendapat Qaffal tersebut tidak diketahui siapa sehingga qaul tersebut sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dan qoul ini yang digunakan oleh orang-orang modern seperti Muhammadiyah, Rasyid Ridla, dan Musthafa Imarah dalam ta'liqan kitab Jawahir al-Bukhari, jadi pendapat ini murni dari pribadi Musthafa Imarah bukan dari Imam al-Qustullani sebagaimana dipersepsikan. 


*Namun dalam benak pribadi Syaikhina Muhammad Najih Maimoen –bukan sebagai fatwa– bahwa di zaman modern ini dimana umat Islam tidak punya negara Islam, maka sudah seharusnya kita membantu pembangunan masjid-masjid yang terbengkalai, apalagi guru-guru agama yang tidak mendapat jatah dari pemerintah, namun tidak boleh dari zakat fitrah. Bisa melalui zakat mal namun pakai hilah  hukum sebagaimana keterangan guru kami Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki bahwa panitia pembangunan masjid itu distatuskan sebagai gharimin, karena menanggung urusan hutang untuk pembangunan masjid, atau diposisikan sebagai faqir-miskin, namun pendistribusiannya harus benar-benar untuk kepentingan masjid, bukan masuk ke kantong pribadi*


Perlu diketahui, madzhahibul Arba'ah berbeda pendapat terkait mashraf (tempat pendistribusian) zakat Fitrah. Golongan Syafi'iyah, Hanafiah, dan Hanabilah sepakat bahwa zakat fitrah juga diberikan kepada selain faqir miskin dari golongan yang delapan. Menurut malikiyyah dan riwayat lain dari hanabilah; zakat fitrah hanya boleh diberikan kepada faqir miskin saja, tidak boleh diberikan kepada selain faqir miskin.

Dalam Kitab Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah juz 23 halaman 344 :


مصارف زكاة الفطر :

اختلف الفقهاء فيمن تصرف إليه زكاة الفطر على ثلاثة آراء : ذهب الجمهور إلى جواز قسمتها على الأصناف الثمانية التي تصرف فيها زكاة المال

وذهب المالكية وهي رواية عن أحمد واختارها ابن تيمية إلى تخصيص صرفها بالفقراء والمساكين.

وذهب الشافعية إلى وجوب قسمتها على الأصناف الثمانية ، أو من وجد منهم


مجلة البحوث الإسلامية - (62 / 337)المبحث التاسع : مصرف زكاة الفطر

اختلف الفقهاء في مصرف زكاة الفطر . فقال الحنفية والشافعية والحنابلة في القول الراجح : إن مصرفها مصرف زكاة المال ، فيجوز صرفها إلى الأصناف الثمانية المذكورين في قوله تعالى : { إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ } (1)

بل إن الشافعية أوجبوا قسمتها على الأصناف الثمانية إذا وجدوا ، وإذا لم يوجدوا فعلى الموجود منهم ،

ولم يشترط الحنفية والحنابلة استيعاب جميع الأصناف أو الموجود منهموإنما جوزوا صرفها حتى إلى صنف واحد من تلك الأصناف الثمانية

وقال المالكية والحنابلة في القول الآخر : إن زكاة الفطر خاصة بالفقراء والمساكين ، وليست عامة في جميع مصارف زكاة المال ، فلا يجوز دفعها إلى غير الفقراء والمساكين.


Tentang amil dalam zakat fitrah, Syaikhina Abah Najih juga menegaskan bahwa dalam konteks keindonesiaan, para pemungut dan penyalur zakat fitrah lebih tepatnya disebut wakil bukan amil, sebab Amil Zakat resmi adanya itu dalam zakat mal, bukan zakat fitrah, sebagaimana BAZNAS atau Lembaga sejenis yang diangkat oleh pemerintah, akan tetapi amil berhak menerima zakat pun harus disesuaikan dengan beban kerjanya (ujrah misil) dan tidak boleh lebih dari itu. Jadi, ustadz, atau kiai yang menerima zakat mestinya langsung disalurkan ke fuqara-masakin. Karena memang Kiai dan ustadz tersebut statusnya hanya wakil saja jika keduanya kaya, namun kalau keduanya  faqir-miskin, maka ia bisa berstatus wakil sekaligus mustahiq, Wallahu A'lam.


Selengkapnya baca di sini:


https://ribathdeha.wordpress.com/2022/05/07/penjelasan-ilmiah-syaikhina-kh-muhammad-najih-maimoen-terkait-ustadz-kiai-madrasah-masjid-pemerima-zakat/?preview=true

Friday, March 21, 2025

Syam'un Al-Ghazi (samson) kaitan 1000 bulan pahala lailatul qadar

 Sejarah Syam'un Al-Ghazi (Samson)


(Sejarah seorang pejuang Allah yang bernama Syam'un Al-Ghazi (samson) dan hubungannya dengan Asal Mula Pahala Ibadah 1000 Bulan/Lailatul Qadar)


Mengapa lebih baik dari 1000 bulan? Atau, mengapa 1000 bulan? Atau adakah kisah tentang 1000 bulan?

Kisah tentang 1000 bulan, berawal dari seorang Nabiyullah yang bernama Nabi Syam’un al-Ghazi as. Nabi dari kalangan Bani Israil. Beliau adalah hakim ketiga terakhir pada zaman Israel kuno.


Nabi Syam’un al-Ghazi As, memiliki beberapa nama; dalam bahasa Arab, beliau disebut dengan Syamsyawn atau Syam'un. dalam bahasa Ibrani, disebut Šimšon; sedangkan dalam bahasa Tiberias, disebut Šhimšhôn; lalu dalam Alkitab Nasrani,disebut Samson. Nama Syam’un sendiri artinya "yang berasal dari matahari”, sedangkan al-Ghozi, artinya “yang berasal dari Ghazi” (Ghaza,Palestina sekarang).


Suatu ketika Nabi Muhammad saw, Berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan. Nabi Muhammad SAW, terlihat tersenyum sendiri, lalu ditanya oleh para sahabatnya “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah”" Beliau menjawab, “Diperlihatkan kepadaku dihari akhir, ketika seluruh manusia dikumpulkan dipadang mah’syar, ada seorang Nabi yang membawa pedang dan tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Syam'un”.


Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Al Ghozi AS, beliau adalah Nabi yang berasal dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi. Nabi Sam’un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Nabi Syam’un al-Ghozi as. adalah seorang pahlawan berambut panjang yang memiliki kemukjizatan dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana. Syam’un memiliki senjata semacam pedang yang terbuat dari tulang rahang unta bernama Liha Jamal, dengan pedang itu dia dapat membunuh ribuan orang kafir. Siapapun musuh yang berhadapan dengannya, pasti akan hancur dengan pedang ajaibnya. Tidak hanya itu, bahkan ketika dia merasa haus dan lapar, dengan perantara pedangnya pula Allah memberikan makanan dan minuman.


Syam'un seorang muslim dan seorang yang ahli ibadah yang sangat disegani oleh kaum kafir. Sudah tak terhitung lagi orang kafir yang mati di tangannya. Selain itu, Syam'un juga ahli ibadah dan tercatat ia sanggup beribadah selama 1000 bulan dengan shalat malam dan siangnya berpuasa, dimana selama 1000 bulan tak pernah lepas dari shalat malam dan siangnya selalu berpuasa.


Samson adalah seorang pembela agama tauhid (meng Esa kan 1 tuhan / ALLAH), berperang melawan kaum kafir selama 1000 bulan, hanya berbekal tulang dagu unta sebagai senjata, tidak memiliki senjata lain. Setiap kali menghantam kaum kafir dengan janggut untanya, terbunuhlah banyak kaum kafir dalam jumlah yang tidak terhitung.


فَإِذاَ عَطَسَ يَخْرُجُ مِنْ مَوْضِعِ الأَسْناَنِ ماَءُ عَذَبٍ فَيَشْرِبَهُ , وَإِذاَ جاَعَ يَنْبُتُ مَنْهُ لَحْمٌ فَيَأْكُلَهُ , فَكاَنَ عَلَى هَذاَ كُلَّ يَوْمٍ حَتَّى مَضَى مِنْ عُمْرِهِ أَلْفَ شَهْرٍ وَهِىَ ثَلاَثُ وَثَمَانُوْنَ سَنَةً وَأَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ , فَعَجَزَ الكُفاَرُ عَنْ رَدِّهِ , فَقاَلُوْا ِلإِمْرَأَتِهِ وَهِىَ كاَفِرَةٌ إِنّاَ نُعْطِيْكِ أَمْواَلاً كَثِيْرَةً إِنْ قَتَلْتِ زَوْجَكِ , قاَلَتْ أَناَ لاَأَقْدِرُ عَلَى قَتْلِهِ


Dengan hanya bersenjatakan tulang rahang seekor unta yang di bentuk menyerupai sebuah pedang pendek yang tajam, Nabi berperang melawan bangsa yang menentang Allah SWT, dengan penuh keberanian dan selalu dapat mengalahkan mereka.

 

Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil. Menghadapi kesaktian Nabi Syam’un al-Ghozi as, membuat para kafirun kewalahan. Mereka mencari jalan untuk bisa menundukkannya. Dengan segala kehebatannya itu, ia dibenci oleh para musuh, terutama dari golongan orang kafir. Akhirnya, dibuatlah rencana untuk membunuh Syam’un. Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam’un. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam’un Ghozi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah. Akhirnya ide licik-pun ditemukan.


Mereka menawarkan hadiah berupa uang dan perhiasan yang berlimpah kepada istri Nabi (Istri samson), dengan syarat ia bersedia melumpuhkan suaminya. Istri Nabi yang ternyata seorang kafir, sangat tergiur oleh hadiah itu. Mereka kemudian memanfaatkan Istri Syam’un, untuk ikut membantu membunuh Syam’un. Sam’un Ghozi AS terpedaya oleh isterinya dan dikhianati istrinya sendiri dan pada akhirnya istrinya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Setelah dirayu dengan imbalan yang menggiurkan, sang istri mengiyakan ajakan kaum kafir untuk membunuh Syam’un suaminya sendiri karena ada iming-iming harta benda yang banyak, si istri akhirnya mau melakukan kejahatan itu.


فَقاَلُوْا نُعْطِيْكِ حَبْلاً شَدِيْداً فَشَدِّى بِهِ يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ فىِ نَوْمِهِ وَنَحْنُ نَقْتُلُهُ , فَشَدَتْهُ المَرْأَةُ فىِ نَوْمِهِ فاَسْتَيْقَظَ فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ فَقاَلَتْ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَجَدَبَ يَدُهُ فَقَطَعَ الحَبَلُ , ثُمَّ جاَءَ الكُفاَرُ بِسِلْسِلَةٍ فَشَدَتْهُ المَرْأَةُ بِهاَ فاَسْتَيْقَظَ , فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ قاَلَتْ أَناَ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَجَدَبَ يَدُهُ فَقَطَعَ السِّلْسِلَةُ


Maka orang kafir memberikan ide agar dia mengikat tangan dan kaki Syam’un sewaktu tidur, untuk kemudian akan dibunuh dengan beramai-ramai.


Para pembesar2 Kafir berkata,

"Kami akan memberimu seutas tali kuat, ikatlah tangan dan kakinya ketika dia tidur, nanti setelah itu kamilah yang bertindak untuk membunuhnya."


Pada hari pertama

Istri Syam'un gagal karena ketiduran yang disebabkan karena suaminya terlalu lama mengerjakan shalat malam. Lama waktunya itu sehingga membuat istri Syam'un tak kuasa menahan kantuk yang amat sangat. Memang Syam'un tidurnya hanya sedikit saja dalam semalam. Dimana malam-malamnya hanya dipergunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.


Keesokan harinya, istri Syam'un lapor kepada kaum kafir quraisy bahwa dia belm berhasil mengikat tangan dan kaki suaminya. Mereka tidak mempermasalahkan hal ini.


Pada hari kedua

Istri Syam'un berhasil mengikat suaminya ketika tidur dengan seutas tali yang kuat. Tatkala Syam'un bangun dan ingin beribadah kepada Allah SWT, ia terkejut karena kedua kakinya terikat.


"Wahai istriku, siapakah yang mengikatu dengan tali ini?" tanya Syam'un kepada istrinya.

"Aku yang mengikat, hanya sekedar mengujimu sampai sejauh mana kekuatanmu," ujar istrinya.


Syam’un dengan mudah dapat melepaskan tali yang mengikatnya dengan satu ucapan doa.Kemudian Syam'un lalu bergegas menuju tempat peribadatannya. Maka gagallah rencana pembunuhan pada hari kedua itu. Namun, setelah itu, musuh-musuh kafir datang lagi dengan membawa rantai dan istri Syam'um siap mengikat suaminya lagi pada keesokan malamnya.


Pada hari ketiga

Istri Syam'un di hari ketiga itu berhasil lagi mengikat suaminya dengan rantai yang diberikan oleh orang-orang kafir quraisy.

"Wahai istriku, siapakah yang mengikatku kali ini?" tanya Syam'un dengan nada agak marah ketika bangun dari tidur.


"Aku yang mengikatnya, sekedar untuk mengujimu," jawab istrinya.

Namun, dengan sekali hentakan Syam’un dapat menghancurkan rantai tersebut.

Rahasia Kekuatan Syam'un

Lalu Syam'un segera menarik tangannya dan memotong rantai itu. Kemudian istrinya pun segera membujuk suaminya agar mau menceritakan rahasia kekuatan tubuh yang dimiliki suaminya. Akhirnya Syam'un bercerita juga, jika sebenarnya ia adalah seorang wali dari sekian banyak WALIYULLAH yang hidup di dunia ini.


Sam’un berkata “Wahai istriku aku wali diantara wali kekasih Allah, segala perkara dunia ini tidak ada yang sanggup mengalahkan diriku, aku punya rambut panjang ini, ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkanku dalam perkara dunia kecuali rambutku ini," jelas Syam'un.


Syam'un memang memiliki rambut yang panjang dan panjangnya digambarkan bahwa ujung rambutnya akan menyentuh tanah saat Syam'un berdiri.


Karena sudah mengetahui kelemahan suaminya, akhirnya pada saat syamun tidur mulailah istrinya mengikat tangan Syam'un dengan 4 helai rambutnya dan mengikat pula kakinya dengan 4 helai rambut milik Syam'un, sementara ia tetap dalam tidurnya.

Setelah bangun, Syam'un bertanya,

"Wahai istriku, siapakah yang mengikatku ini?"

"Aku, untuk mengujimu," jawab istrinya yang mulai ketakutan.


Setelah itu Syam'un berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan itu, namun dia tidak berdaya untuk memotongnya. Si istri langsung saja memberitahukan kepada kaum kafir tentang hal ini. Nabi Syam’un al-Ghozi as lalu dibawa ke istana kehadapan raja para kafirun. lalu diikat pada tiang utama istana dan dipertontonkan kepada khalayak istana.

 

Mulailah mereka memotong kedua telinga, bibir, kedua tangan dan kakinya. Tidak hanya itu, Nabi juga disiksa dengan dibutakan kedua matanya, Mereka menyiksa Nabi dengan tujuan agar beliau mati secara perlahan-lahan. Istrinya yang jahat, ikut pula menyaksikan penyiksaan tersebut tanpa rasa belas kasihan. 

Astaghfirullah sungguh biadab orang kafir.


Pertolongan Allah SWT Datang

Begitu hebatnya siksaan tersebut, membuat Allah SWT lewat perantaraan malaikat jibril berbicara dengan suaranya yang hanya bisa didengar oleh Nabi Syam’un al-Ghozi as, “Hai Syam’un apa yang engkau inginkan, Aku akan menindak mereka.”


Nabi menjawab, “Ya Allah, berikanlah kekuatan kepadaku hingga aku mampu menggerakkan tiang istana ini, dan akan kuhancurkan mereka dengan kekuatan dari Allah !. Bismillah. La haula wa la quwwata illa billah!


Do’a Nabi Syam’un al-Ghazi as diKabulkan Allah SWT. Allah SWT memberi kekuatan kepada Syam'un yang kekuatannya tidak bisa dibayangkan dan melebihi kekuatan dari rambutnya sendiri. Maka dengan seizin Allah, Nabi Syam’un al-Ghazi as. menggoyangkan tiang istana tersebut, Syam'un hanya beringsut sedikit saja, putuslah tali rambut itu bahkan dan tiang itupun rubuh menimpa raja bersama seluruh khalayak istana termasuk istrinya yang durhaka dan orang-orang yang telah menyiksanya. tiangnya juga ikut roboh dan hancur lebur. istana yang dijadikan tempat pembantaian itu juga turut hancur dan atapnya menimpa orang-orang kafir dan semuanya mati. Begitu juga dengan istrinya, juga ikut tertimpa reruntuhan gedung istana raja kafir. Mereka semua mati tertimpa reruntuhan bangunan istana dan terkubur didalamnya. Hanya Syam’un sendiri yang selamat, lalu Allah mengembalikan seluruh anggota badan yang telah terpotong dan menyembuhkan segala sakitnya.


فَبَعْدَ ذَلِكَ عَبَدَ اللهَ أَلْفَ شَهْرٍ مَعَ قِياَمِ لَيْلِهاَ وَصِياَمِ نَهاَرِهاَ , فَضَرَبَ بِالسَّيْفِ فىِ سَبِيْلِ اللهِ


Setelah peristiwa itu, Nabi Syam’un al-Ghozi as. bersumpah kepada Allah SWT akan menebus semua dosanya dengan berjuang menumpas semua kebatilan dan kekufuran selama 1000 bulan tanpa henti. Nabi menyibukkan diri dalam beribadah kepada Allah. Malam hari dilalui dengan memperbanyak shalat malam, sedangkan siangnya beliau berpuasa. Nabi menjalankan ibadahnya selama seribu bulan hingga ajalnya tiba.


Setelah mendengar kisah Nabi Syam’un al-Ghozi as, para sahabat Nabi Muhammad saw menangis terharu, bertanya sahabat kepada Nabi Muhammad SAW. “Ya Rasullulah, tahukah baginda akan pahalanya?”

Jawab Rasulullah, “Aku tidak mengetahuinya.”


فَأَنْزَلَ اللهُ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِهَذِهِ السُّوْرَةِ (القَدْرِ) وَقاَلَ ياَمُحَمَّدْ أَعْتَيْطُكَ وَأُمَّتَكَ لَيْلَةَ القَدْرِ العِباَدَةُ فِيْهاَ أَفْضَلُ مِنْ عِباَدَةِ سَبْعِيْنَ أَلْفِ شَهْرٍ


Setelah Rasulullah selesai berkisah, Allah SWT menyuruh Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan menurunkan Surat Al Qadr.


"Hai Muhammad, Allah memberi Lailatul Qadar kepadamu dan umatmu, ibadah pada malam itu lebih utama daripada ibadah 1000 bulan," ujar Malaikat Jibril.


Allah SWT berfirman: Surat Al-Qadar ayat 1-5:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ٢

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ٣

تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ٤

سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥


Artinya:

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?

3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.

Mendengar berita itu, Rasulullah SAW menyuruh sahabat-sahabatnya untuk berburu malam Lailatul Qadar agar mendapatkan pahala seperti yang Allah AWT berikan kepada Waliyullah Syam'un Al-Ghazi.


Apabila fajar telah terbit di malam qadar, maka malaikat Jibril berkata: Wahai para malaikat, kumpul kemari dan kumpul kemari.., Para malaikat Ya Jibril apa yang Allah perbuat untuk kaum muslimin di malam ini dari ummat Nabi Muhammad SAW ? Jibril Sesungguhnya Allah memandang kepada mereka dengan penuh kasih sayang, Allah memaafkan serta ngampuni dosa-dosa mereka, kecuali empat kelompok. Para malaikat Siapa empat kelompok itu ? Jibril Pertama, orang yang membiasakan diri minum arak, mabuk-mabukan. Kedua, Orang yang durhaka kepada orang tua. Ketiga, orang yang memutus silaturrahmi.


Keempat, orang yang bertengkar, yaitu pertengkaran dengan sesama yang belum damai dalam jangka waktu tiga hari. Subhanallah..., Maha suci ALLAH.


sumber:

-DurrAtun Nasihin" pada Bab Lailatul Qadr.

-kitab Muqasyafatul Qulub.

-Kitab Qishashul Anbiyaa (Al-Imam Ghazali).


Monday, March 17, 2025

SEJARAH KITAB BAKURATUL AMANI

 SEJARAH KITAB BAKURATUL AMANI


Kata Al-Fadhil Ustaz Helmi As-Syafi'e حفظه الله di dalam kuliahnya (dua tahun yang lepas):


"Dalam Kitab Bakuratul Amani, Tuan Musonnif yakni Almarhum Pak Da 'Eil Mekah رحمه الله nak ceghita kat kita tentang sejarah kitab ni.. Kitab Bakurah ni dikarang pada tahun 1335 Hijrah, sekarang dah masuk tahun 1438 Hijrah, bermakna umur Kitab Bakurah ni dah mencecah 103 tahun.. Sejarahnya laguni, Pak Da 'Eil Mekah yakni Syeikh Wan Ismail bin Wan Abd. Kadir bin Wan Musthofa Al-Fathoni Al-Makki رحمه الله تعالى..


Ketika beliau berumur 14 tahun, beliau pi ke Mekah, mengaji di Mekah & beliau pi dengan Pak Menakan beliau.. Daripada umur 14 tahun, mengaji di Mekah sampailah jadi Tok Guru, sampailah mengajaq di Mekah, wafat di Mekah & dikebumikan di perkuburan Ma'la berdekatan dengan maqam Saidatina Siti Khadijah رضى الله عنها yakni isteri Saiyyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم..


Jadi, Pak Da 'Eil yakni Tuan Musonnif Kitab Bakurah ni, beliau asal orang Pattani, kemudian umur 14 tahun beliau pi ke Mekah, mengaji punya mengaji sampai jadi 'alim & kemudian beliau mengajaq.. Apabila mengajaq, ada ramai anak² murid, maka pada suatu hari yakni pada tahun 1335 Hijrah, Pak Da 'Eil mai ziarah ke Kedah.. Beliau mai dari Mekah untuk ke Kedah dengan menaiki kapal layar masa zaman tuu.. Apabila beliau sampai ke Kedah, beliau singgah di rumah anak muridnya yang bernama Tuan Guru Hj. Ahmad رحمه الله.. Dimana? Di Kg. Penyarum, Tobiaq di Pendang, Kedah..


Kemudian beliau duduk di rumah Tuan Guru Hj. Ahmad, apabila duduk di rumah Hj. Ahmad, maka beliau menjadi tetamu kepada Tuan Guru Hj. Ahmad.. Tuan Guru Hj. Ahmad ni ada sorang kawan, namanya Hj. Mad Hassan.. Kawan beliau ni jenih "benak".. Benak ni maksud dia, payah nak boleh atau lambat nak boleh, bahasa orang tua² kata "benak".. Lalu Tuan Guru Hj. Ahmad mintak kat Pak Da 'Eil untuk karang satu risalah Tauhid ringkas untuk kawan dia yakni Hj. Mad Hassan supaya mudah untuk kawannya memahami ilmu Tauhid.. 


Maka Pak Da 'Eil pun pikiaq sejenak kemudian dengan Taufiq daripada Allah Ta'ala, Pak Da 'Eil memulakan penulisannya.. Apadia makna Taufiq? Ertinya Tenaga @ Kekuatan Untuk Buat Ketaatan, tuu lah makna Taufiq.. Macam kita ni, Allah Ta'ala bagi Taufiq untuk kita bersila sambil mengaji dekat sejam lebih, tapi kalau Allah Ta'ala tak bagi Taufiq, 5 minit dok bersila dalam kuliah sekalipun dah rasa pening berdengung, jadi berbulu dalam hati, tak boleh nak duduk diam.. Tapi kalau tunggu nak tengok bola, sampai pukul 3 pagi pun sanggup pi tunggu..


Kalau bahasa Pak Da 'Eil, kekuatan ni Allah Ta'ala bagi "ghengg" atau bahasa kita, qudrat.. Maka Pak Da 'Eil kata dalam Kitab Bakurah ni, bila anak murid dia mintak dia karang sebuah risalah Tauhid, maka Allah Ta'ala yang bagi "ghengg" atau qudrat yakni Allah Ta'ala yang bagi kekuatan untuk dia mengarang.. Pak Da 'Eil kata, apabila Allah Ta'ala bagi Taufiq, maka bergeraklah قلم, haa ni bahasa lama, قلم ni ertinya Pen.. Maka dengan Taufiq Tuhan, bermulalah penulisan Pak Da 'Eil untuk mengarang.. Pak Da 'Eil duduk di rumah anak murid beliau lebih kurang beberapa hari untuk mengarang risalah Tauhid..


Kitab Bakurah ni banyak bahasa lama yang Pak Da 'Eil guna, kalau tak mengaji dengan Tok Guru, maka akan jadi tak faham makna bahasa² lama tuu.. Saya mengaji dengan Guru saya, Almarhum Tuan Guru Hj. Salleh Musa رحمه الله manakala beliau mengaji dengan Gurunya, Pak Da 'Eil Mekah رحمه الله, lagutulah yang beliau dhobit (catat) sepertimana yang saya terang dari awal tadi yang mana Pak Da 'Eil mai rumah Tuan Guru Hj. Ahmad رحمه الله, kemudian Hj. Ahmad mintak Pak Da 'Eil tulis sebuah risalah Tauhid yang ringkas untuk kawan dia, Hj. Mad Hassan.. Maka Pak Da 'Eil tulis dalam beberapa hari diatas beberapa lembar kertas, lembar ertinya muka surat.. Pak Da 'Eil kata, beliau tulis risalah ni dengan apa yang beliau ingat sikit² masa mengaji dulu.. Ini percakapan tawadhuk, rendah diri..


Pak Da 'Eil memang seorang Ulama' yang merendah diri, Almarhum Tuan Guru Hj. Salleh Musa رحمه الله pernah tanya kat Pak Da 'Eil lebih kurang laguni, "Pak Da, awat Pak Da tak pakai jubah? Sedangkan Tok² Guru yang lain pakat pakai jubah belaka?" Pak Da 'Eil jawab, "Aku bukan takmau pakai jubah, tapi badan aku bongkok, kalau aku pakai jubah, satgi takut terpijak pastu rebah.."


Pak Da 'Eil ni cuma pakai baju pagoda jaa waktu mengajaq, sama macam Tok Kenali.. Pak Da 'Eil ni dok masa zaman Tok Kenali.. Tok Kenali ni mengaji dengan sepupu Pak Da 'Eil yakni Almarhum Syeikh Wan Ahmad Fathoni رحمه الله تعالى, Guru kepada Tok Kenali adalah sepupu Pak Da 'Eil.. Sejarah Tok Kenali kalau kita mengaji, beliau mengajaq kat bawah pokok getah jaa, pakai baju pagoda, duduk kat atas tanah, kadang² mengajaq tak pakai baju sebab cuaca terlalu hangat.. Tudiaaa, tuu lah orang dulu², depa tak berlagak, bukan macam zaman kita, berlagak tak kena tempat..


Kita tengok macam Almarhum Tuan Guru Syeikh Abdullah Fahim رحمه الله تعالى, dalam gambaq, serban beliau tuu macam kain basah jaa, tapi ilmu beliau cukup² hebat.. Tuu lah orang dulu², nampak biasa tapi hakikatnya sangat luar biasa.. Tak macam zaman kita, luaran nampak amat luar biasa tapi dalamannya biasa-biasa jaa, habuk pun takdak.. Pak Da 'Eil ni merendah diri, sebab tuu beliau kata, "Aku tulis risalah ni berdasarkan apa yang aku ingat.."


Kalau bahasa kita, tulis huduh² lagutu jaa.. Padahal, Pak Da 'Eil ni ahli Tauhid, memang sangat pakar dalam ilmu Tauhid, sapa dia anak² murid Pak Da 'Eil? Di antaranya, Almarhum Tuan Guru Hj. Abdullah Lubuk Tapah رحمه الله, Almarhum Tuan Guru Hj. Abd. Rahman Guar Kepayang رحمه الله, Almarhum Tuan Guru Hj. Salleh Musa رحمه الله & ramai lagi anak² murid Pak Da 'Eil yang hebat² belaka bahkan karamah yang timbul pada mereka kerana Allah Ta'ala yang kurniakan kepada mereka.. Kalau anak² murid pun dah hebat, Tok Guru lagilah hebat taktau nak habaq lagumana dah.. Jadi Pak Da 'Eil kata, beliau tulis risalah ni berdasarkan apa yang beliau ingat jaa.. Pasaipa beliau kata lagutu?


Sebab semua kitab beliau ada kat Mekah, Pak Da 'Eil mai ke Kedah ni sebab nak ziarah anak² murid beliau.. Pak Da 'Eil ziarah anak² muridnya yakni Tuan Guru Hj. Ahmad di Kg. Penyarum, Tobiaq kemudian beliau ziarah adiknya yakni Almarhum Pak Chu Him رحمه الله تعالى, Pondok Gajah Mati.. Pak Chu Him ni adik kepada Pak Da 'Eil, kemudian beliau ziarah sahabat beliau yakni Almarhum Tuan Guru Hj. Yaakub رحمه الله تعالى di Sik iaitu Tokwan kepada Almarhum Syeikh Hamid Othman رحمه الله yang merupakan Penasihat kepada Perdana Menteri pada zaman tuu..


Almarhum Tuan Guru Hj. Salleh Musa رحمه الله pernah ceghita bahawa kitab² Pak Da 'Eil yang ada kat rumah beliau kat Mekah tuu, kena naik tangga sebab banyak sangat, kena susun tinggi² atas rak, penuh rak dengan kitab² beliau.. Pak Da 'Eil tulis risalah ni lepas Tuan Guru Hj. Ahmad mintak, lepas selesai tulis, beliau bagi kat Hj. Ahmad kemudian Hj. Ahmad bawak balik bagi kat kawannya, Hj. Mad Hassan, kemudian Hj. Mad Hassan bawak balik pulak ke Pondok.. Lalu pelajar² Pondok ni pakat dok belek, lepas belek depa pun baca, kemudian depa pakat dok bahas sesama depa, pasaipa risalah ni agak pelik.. Dalam dok bahas² tuu, ada orang berani dia i'tirodh yakni dia bangkang, dia kata risalah ni tak betul..


Haa tudiaa, ada hat fesyen berani lagutu, apabila depa dok bahas² timbul tiga buah kumpulan.. Yang pertama, kumpulan hat yang berani, depa i'tirodh teruih kata risalah ni tak betul.. Yang kedua, kumpulan hat yang nak bela Ulama', depa kata jangan dok i'tirodh teruih, jangan kata risalah ni tak betul teruih, kita kena tanya Tuan Musonnif dulu, takkanlah tak betul sedangkan yang tulis ni adalah Ulama' Besar dari Mekah.. Yang ketiga pulak, kumpulan hat yang tak ambik peduli, depa kata ikut suka hangpalah, hat jenih laguni fesyen pemalaih, nak jadi apa jadilah..


Dalam dok bahas² tuu, ada yang berani i'tirodh risalah ni sebab depa kata Bakurah ni pelik.. Pasaipa pelik? Sebab dalam Kitab² Turath Lama, Qudrat ertinya Berkuasa.. Tapi dalam Kitab Bakurah pulak, Qudrat ertinya Pekuasa.. Kitab dulu², Iradat ertinya Berkehendak.. Tapi Kitab Bakurah pulak, Iradat ertinya Pekehendak.. Kalau kita tengok dalam Kitab Aqidatun Najin, Kitab Bidayatul Hidayah bahkan Kitab Faridatul Faraid, Kitab Bakurah ni tak sama dengan Kitab² Tauhid yang lain, tak sama kat mana? Tak sama kat beberapa tempat, antaranya:


1) Nama bagi sifat² Ma'ani ditukar kepada imbuhan "Pe" seperti Pekuasa, Pekehendak, Pendengar & Pelihat..


2) Sifat Salbiyyah dengan makna TERNAFI dalam Kitab Bakurah.. Manakala dalam kitab² lama ditulis dengan MENAFI..


3) Bab perbahasan Istihalatul Mustahil..


Kitab Faridah ni, sepupu Pak Da 'Eil yang karang yakni Almarhum Syeikh Wan Ahmad Fathoni رحمه الله تعالى.. Syeikh Wan Ahmad Fathoni ni hebat belaka dah, memang sakan ilmu beliau, bukan calang² Ulama', beliau merupakan Guru kepada Tok Kenali (nama sebenarnya,Tuan Guru Haji Muhammad Yusuf bin Haji Ahmad Al-Kelantani رحمه الله تعالى).. Tapi Pak Da 'Eil ni lebih halus ilmu beliau dalam ilmu Tauhid, Syeikh Wan Ahmad Fathoni pulak ilmu beliau lebih kat bab lain.. Dua² sama-sama hebat..


Syeikh Wan Ahmad Fathoni ni nak kata sakan tak sakan, para Masyaikh Al-Azhar di Mesir sendiri memberi gelaran SINGA ASIA kepada Syeikh Wan Ahmad Fathoni.. Tudiaa, sebab tuu lah kita kata Guru kepada Tok Kenali memang sakan sungguh ilmunya.. Syeikh Wan Ahmad Fathoni ni beliau karang kitab & beliau mengajaq masa era zaman pemerintahan Khilafah Turki Uthmaniyyah dulu, sebuah Kerajaan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang memerintah dua pertiga dunia suatu ketika dahulu.. Ketika Turki Uthmaniyyah memerintah, Syeikh Wan Ahmad Fathoni merupakan IMAM kepada seluruh para Ulama' Tanah Jawi yang digelar SINGA ASIA.. Orang Arab sendiripun tabik kat beliau, pasaipa?


Ceghitanya laguni, dulu Ulama' Al-Azhar dengaq berita bahawa Syeikh Wan Ahmad Fathoni sakan sungguh ilmunya, lalu depa nak uji beliau.. Kemudian depa tulis surat jemputan untuk jemput Syeikh Wan Ahmad Fathoni ke satu persidangan untuk bahas bab ilmu.. Lalu Syeikh Wan Ahmad Fathoni berpakat dengan anak muridnya yakni Tok Kenali, depa pun pi sekali, dalam perjalanan Syeikh Wan Ahmad Fathoni kata kat Tok Kenali, "Wahai Yusuf, mu jadi Tok Guru, aku jadi murid mu.." Haa, depa nak perkena kita, kita perkena depa pulak..


Hat ni yang Almarhum Tuan Guru Hj. Salleh Musa رحمه الله ceghita kat kami, apabila ramai Ulama' Al-Azhar mai berhimpun, depa ambik syair² sastera Arab masa zaman jahiliyyah dulu², depa tukaq baris ayat syair tadi ni hat yang dok kat atas depa buh belah baris bawah, hat yang baris bawah depa buh kat baris atas, campur habih bagi selerak syair tuu.. Maka apabila Tok Guru suruh anak muridnya yakni Tok Kenali berlakon jadi Tok Guru, Tok Kenali pun ikutlah perintah Gurunya.. Tok Kenali duduk atas kerusi manakala Gurunya, Syeikh Wan Ahmad Fathoni duduk dibawah, lalu Ulama' Al-Azhar pun memulakan pertanyaan, tanya punya tanya, Tok Kenali boleh jawab dengan lancar..


Syeikh Wan Ahmad Fathoni kata, "Soalan ni memang patut padan pun dengan anak murid aku.."


Kemudian Syeikh Wan Ahmad Fathoni ambik syair², beliau susun balik ayat² syair yang depa selerakkan tadi satu persatu bagi jadi elok balik susunan dia, maka semua Ulama' Al-Azhar terbeliak bijik mata sebab terkejut dengan ke'aliman yang ada pada Syeikh Wan Ahmad Fathoni.. Bahkan dengan syair yang beliau susun balik tuu, keluaq pulak 13 buah ilmu termasuk ilmu Kimia yakni ilmu bagaimana cara nak buat emas.. Maka diberilah pengiktirafan kepada syair yang disusun balik oleh Syeikh Wan Ahmad Fathoni tuu, diukir syair tuu di pintu gerbang yakni pintu masuk Universiti Al-Azhar suatu ketika dahulu kemudian digelar Syeikh Wan Ahmad Fathoni sebagai SINGA ASIA..


Zaman laa ni, takdak dah Ulama' yang sakan lagutu, Syeikh Wan Ahmad Fathoni ni Ulama' yang Tahqiq lagi pulak Mudaqqiq bahkan Muhaqqiq.. Ulama' yang sebegini mereka bercakap berdasarkan dalil, apabila datangnya satu dalil, dia datangkan lagi dalil hat yang lain untuk sokong dalil hat yang pertama tadi.. Kalaulah Ulama' sebegini masih hidup lagi di zaman kita, pakat mampuih habih puak² Wahabi nanti..


Tetapi sayangnya, zaman kita ni dah kurang Ulama' yang sakan macam tuu, makin sedikit Ulama' yang betul² Tahqiq ilmunya.. Namun makin lama makin jengoiiii & makin ramai hat jenih yang pandai bercakap & pandai berceramah.. Apabila ada orang tanya bab hukum, "Ustaz, ape hukum bagi masalah ni?" Ustaz tuu jawab, "Rase-rase saye, hukumnye sekian sekian.." Dia dok kira rasa-rasa hang jaa.. Ramai hat jenih lagutuu laa ni.. Padahal orang dulu² bila ditanya bab hukum, depa kata sat dulu, nak rujuk kitab sat, haa hat ni dalil dia, dan nindiaa dalil yang satu lagi.. Inilah yang dipanggil ilmu yang Tahqiq..


Sambung balik, pasaipa ada orang berani i'tirodh, berani bangkang kata yang Kitab Bakurah ni tak betul, pasaipa? Sebabnya Kitab Bakurah ni tak sama dengan Kitab Faridah, tak sama dengan Kitab Aqidatun Najin, tak sama dengan Kitab Sirojul Huda, tak sama langsung.. Tak sama kat mana? Tak sama tuu hat yang paling ketaranya adalah pada tempat perbahasan sifat Ma'ani, hat tuu lah yang paling ketara..


Pasai tuu lah kitab ni namanya Bakurah, ertinya Buah Sulung.. Al-Amani pulak ertinya Yang Ditunggu-Tunggu, sebab memang orang ramai pakat dok tunggu bila laa Pak Da 'Eil nak karang kitab, jadi bila Pak Da 'Eil dah karang kitab, depa pakat nak dengaq belaka sebab tak pernah dengaq lagi Kitab Bakurah ni bahkan orang pakat tertunggu-tunggu perbahasan daripada Pak Da 'Eil sendiri, lagumana huraian Pak Da 'Eil..


Percaya dak kalau saya kata bahawa Pak Da 'Eil ni adalah keturunan Ahlul Bait? Nama beliau, Syeikh Wan Ismail bin Wan Abd. Kadir bin Wan Musthofa yang asal keturunannya daripada Teluk Manok, Thailand.. Pak Da 'Eil ni asal daripada keturunan Sunan Ampel yang pindah dari Surabaya ke Pattani, Pak Da 'Eil ni adalah keturunannya Sunan Ampel yang tinggal di Pattani.. Sunan Ampel ni lahir pada tahun 1401 Masihi di Champa.. Tapi ahli² sejarah berlaku khilaf samada Champa ni maksudnya di Kemboja atau Champa ni adalah daripada sebutan yang lain yakni "Jeumpa" dalam bahasa Acheh, kerana "Jeumpa" atau Champa ni dulu terletak dalam wilayah Kerajaan Acheh suatu ketika dahulu.. Sunan Ampel menetap di Surabaya, Indonesia.. Sunan Ampel pulak bersambung salasilah keturunannya sampailah kepada Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم.. Itulah yang dipanggil Sunan Ampel..


Saya tengah dok cari risalah yang sahih daripada Baba Ismail bin Jasmith حفظه الله daripada Pattani.. Saya pernah tanya kat Baba, betul kaa Pak Da 'Eil ni daripada keturunan Ahlul Bait, keturunan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم? Baba Ismail bin Jasmith kata memang sah.. Apabila saya dengaq bahawa memang sah Ahlul Bait, saya naik bulu roma, sebab ni keturunan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم yang mengajarkan Aqidah yang sahih yakni Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah kat kita semua agar kita boleh pegang betul² dengan apa yang diwariskan oleh para Salaf kepada kita semua..


Sambung lagi, kebetulan masa depa dok i'tirodh Kitab Bakurah tuu, Pak Da 'Eil tak balik ke Mekah lagi, lalu depa pi jumpak sendiri dengan Pak Da 'Eil nak mintak tolong perjelaskan kat depa tentang Kitab Bakurah ni.. Pak Da 'Eil pun hurai punya hurai satu persatu kepada pelajar² Pondok tuu & beliau terang pasaipa Kitab Bakurah ni tak sama dengan Kitab² Jawi yang lain.. Pak Da 'Eil tunjuk kaedah² dalam ilmu Nahu & Sorof sampailah depa faham, kemudian Pak Da 'Eil nyatakan bahawa dia karang kitab bukan ikut nafsu, dia bukan hurai ikut nafsu & dia bukan suka hati dok pi ubah, tapi beliau karang kitab ni, dia hurai & dia buat perubahan mengikut kaedah ilmu yang beliau mengaji selama ni..Pasaipa? Kerana sifat Ma'ani ini ada tiga terjemahan, yang pertama, Sifat.. Yang kedua, Ta'luq yakni Tugas.. Dan yang ketiga, Muta'allaq yakni hasil daripada Tugas..


Saya bagi contoh sikit, Qudrat ertinya Pekuasa yakni sifat yang ada pada zat Tuhan yang sedia ada, yang kekal & yang tak sama langsung dengan makhluk.. Hat tuu kita wajib beriman.. Maka Pak Da 'Eil terjemah Qudrat dengan Pekuasa.. Apabila ada sifat, maka ada Ta'luq yakni ada Tugas.. Tugas ni kita terjemah, iaitu buat kerja.. Buat kerja iaitulah berkuasa buat Makhluk.. Apabila Allah Ta'ala ada Qudrat, maka Allah Ta'ala boleh buat kerja, buat apa? Yakni buat makhluk.. Apabila makhluk dibuat, maka makhluk ni dibawah kekuasaan Allah Ta'ala.. Pasaipa Tuhan buat makhluk? Apabila berkuasa buat makhluk, maka makhluk ni dibawah kekuasaan Allah Ta'ala.. Haa tudiaaa, pakat pening dah kaa? Tuu kita baru Muqaddimah, tak masuk hat belah dalam² lagi..


Takpa, saya bagi contoh satu lagi, kita kata kat kawan kita, "Dollah, tolong ambilkan MENYAPU tuu sat.." Agak² kawan kita tuu faham kaa dak?? Mestilah tak faham, sepatutnya kita kena kata laguni, "Dollah, tolong ambilkan PENYAPU tuu sat.." Haa barulah dia faham sebab mana ada orang panggil PENYAPU dengan MENYAPU.. PENYAPU ni Ta'luq dia adalah untuk MENYAPU.. Haa, nampak dak?? Paham dakgi?? Kaa masih pening lagi?? Mengaji pun payah, tak mengaji pun payah..


Jadi, Kitab Bakurah ni hanya nak memperhalusi dari segi bahasa supaya kita ni tepat pemahaman kita dari segi iktiqad & aqidah kita dan supaya kita dapat mengaji ilmu mengenal Allah Ta'ala serta dapat kenal sifat Tuhan.. Kalau kita kata Qudrat tuu ertinya Berkuasa, maknanya kita ni baru mengaji bab Ta'luq yakni Tugas Dia jaa.. Tak mengaji & tak kenal lagi sifat Allah Ta'ala.. Haa tudiaaa, lagunilah cara kami ngaji dengan Almarhum Tuan Guru Hj. Salleh Musa رحمه الله..


Pak Da 'Eil ni orang yang sangat berprinsip & sangat cengeiiiii, Pak Da 'Eil kata kat depa, "Kalau mu berani kata kitab ni salah, mana jalan yang mu kata salah? Tunjukkan jalan, kalau mu tak boleh nak tunjuk jalan, maka mu jangan kata salah.." Jadi Pak Da 'Eil ubah bahasa Kitab Bakurah ni bukannya Pak Da 'Eil ubah ikut suka dia, bukannya ikut nafsu dia, tapi dia ubah ikut kaedah ilmu.. Maka pelajar² Pondok tadi kenalah terima apa yang Pak Da 'Eil dah tunjukkan jalan & kenalah membenarkan apa yang Pak Da 'Eil ubah walaupun menyalahi & tak sama dengan mafhum dalam Kitab² lama sebab tak kiralah sama atau tak sama, tak kiralah lama ataupun baru, tapi kalau betul dari sudut kaedah ilmu, maka hangpa tetap kena terima jugak lagumana sekalipun..


Guru kepada Pak Da 'Eil ni namanya, Syeikh Muhammad Ali Al-Maliki رحمه الله تعالى, orang Maghribi, beliau merupakan "Syaikhul Masyaikh" yakni Guru kepada segala Ulama'-Ulama' suatu ketika dahulu & beliau digelar "Sibawaih Zamanih" yakni Ulama' yang 'alim dalam ilmu Nahu & Sorof serta beliau juga digelar "Sakaki Awanih" yakni Ulama' yang 'alim dalam ilmu Balaghoh.. Beliau bermazhab Maliki tapi beliau sangat² 'alim dalam 4 buah Mazhab, walaupun beliau Mazhab Maliki tapi beliau beramal dengan Mazhab Syafi'e..


Moga² pertalian kita nanti, kita mengaji Kitab Bakurah ni, kita boleh jumpak Pak Da 'Eil & boleh jumpak Syeikh Muhammad Ali Al-Maliki nanti di akhirat kelak bersama-sama dengan para Ulama' yang lain serta bersama dengan Kekasih kita, Sayyiduna Rasulullah صلى الله عليه وسلم disebabkan kita dah ada hubungan & pertalian diantara sanad pengajian kita ini.. Walaupun kita tak pernah jumpak mereka, tak pernah tengok mereka, tapi kita sayang kat mereka, kita kasih kat mereka dengan kita mempelajari ilmu yang mereka tinggalkan kepada kita semua..


Pak Da 'Eil ni sangat berprinsip kerana beliau sangat tegas mempertahankan prinsip ilmunya, sebab tuu ilmu beliau sangat berkat, sampaikan kitab beliau masih ada sampai ke hari ni, orang ramai pakat nak mengaji Kitab Bakurah ni, pasaipa? Sebab bukan senang nak buat perubahan daripada hat yang lama dah orang dok pegang, nak ubah kepada yang betul² tepat & betul² sahih mengikut kaedah ilmu, ia merupakan satu cabaran yang sangat besaq bagi Pak Da 'Eil.. Kerana ramai Ulama' marah kat Pak Da 'Eil tapi beliau tetap bersabar..


Dulu ada seorang Ulama' ni namanya Tok Bermin yakni pengasas Pondok Bermin di Fathoni, nama penuh Tok Bermin adalah Tuan Guru Hj. Wan Ahmad bin Wan Idris Al-Fathoni رحمه الله تعالى.. Pada satu tahun ni, Tok Bermin pi ke Mekah, beliau pun pi lah ziarah Pak Da 'Eil untuk bahas Kitab Bakurah ni.. Pak Da 'Eil tau dah bahawa Tok Bermin ni sangat cengeiiiii, Pak Da 'Eil pun cengeiiiii jugak, dua² cengeiiiii, cukup garang kedua-dua Ulama' ni.. Tok Bermin nak teguq bab Kitab Bakurah ni, haa inilah orang kata "Gentleman", bukan jenih spesies cakap belakang² jaa bahkan nak bagi elok keadaan, beliau pi jumpak sendiri dengan Pak Da 'Eil, "Face To Face" bak kata orang putih..


Tok Bermin pun bagi salam, "Assalamu'alaikum.."


Pak Da 'Eil pulak saja jaa nak cucuk Tok Bermin, saja nak bagi dia marah lalu Pak Da 'Eil jawab, "Wa'alaikumussalam, laa aku ingat kambing mana yang mai, janggut panjang sangat.."


Haa tudiaa.. Tok Bermin pun kata, "Mu ni 'Eil, watpa reja mengarut ni??"


Pak Da 'Eil pun kata balik, "Mu duduk dulu, mai duduk dulu.."


Dipendekkan ceghita, mereka pun bahas punya bahas, hurai punya hurai, pong pang pong pang pong pang, akhirnya Tok Bermin urut dada tanda lega lalu beliau kata kat Pak Da 'Eil, "Alhamdulillah, tima kasihlah.. Kena hak mu 'Eil, kena hak mu.."


Maka selesailah masalah daripada dok bertengkaq tak habih², Pak Da 'Eil bahas & tunjuk jalan ikut ilmu Nahu, Tok Bermin pulak 'alim ilmu Nahu, dua² pakat faham, jadi nak bahas kot celah mana lagi? Tok Bermin pun akhirnya faham dan dia terima jalan & kaedah yang Pak Da 'Eil pegang.. Bukan macam kita, bertengkaq tak habih² dalam Facebook, bila mintak nak bersemuka, pakat lari.. Berani kat Facebook jaa, tak berani pun kalau depan².. Kalau tak berjumpak, lagi tuu lah masalah tak selesai.. Kalau kita nak bahas dengan orang yang memang ahli ilmu sesama kita, takpalah.. Tapi kalau nak bahas dengan orang yang jahil, baik tak payah, kalau orang tuu jahil, lebih baik kita dok sengap.. Sebab kita takkan menang kalau lawan dengan orang yang jahil..


Almarhum Tuan Guru Hj. Salleh Musa رحمه الله balik mengajaq pada tahun 1964, beliau balik ke Kedah pada tahun 1963, kemudian beliau bukak Pondok pada tahun 1964 lalu beliau mengajaq ilmu Tauhid.. Mengajaq punya mengajaq dengan kawan beliau, Almarhum Tuan Guru Hj. Man Guar Kepayang رحمه الله, beliau dilantik menjadi Ahli Jawatankuasa Fatwa Negeri Kedah selama 10 tahun.. Dalam beliau dok jadi AJK Fatwa Negeri Kedah, beliau mengajaq Kitab Bakuratul Amani, kebetulan ada sorang dua AJK Fatwa tuu tak berapa setuju dengan Aqidah yang diajaq oleh Almarhum Tuan Guru Hj. Salleh Musa رحمه الله..


Depa kata Aqidah yang diajaq tuu adalah Aqidah Falsafah.. Maka keluaqlah arahan daripada Majlis Fatwa Negeri Kedah bahawa tak boleh mengajaq Kitab Bakurah ni dalam negeri Kedah masa zaman tuu, masa tuu zaman Sohibus Samahah, Dato' Paduka Syeikh Abd. Majid رحمه الله تعالى.. Maka keluaq arahan tak boleh mengajaq Kitab Bakurah, masa zaman tuu orang hat yang mai mengaji ni penuh melimpah dah, tiba² keluaq pulak arahan daripada Majlis Fatwa Negeri Kedah bahawa tak boleh mengajaq Kitab Bakurah ni, maka jadi riuh rendahlah masa tuu..


Dalam Majlis Fatwa Negeri Kedah masa zaman tuu ada seorang Ulama' yang bernama Tuan Guru Hj. Tajuddin, ayah beliau bernama Syeikh Abd. Rahman, anaknya Syeikh Tajuddin.. Ni semua orang Raja, orang istana, Guru ugama yang mengajaq di dalam istana.. Syeikh Tajuddin ni mengaji di Mekah jugak, Tuan Guru Hj. Salleh adalah kawan sepengajian beliau ketika mengaji di Mekah..


Beliau pun kata kat semua AJK Fatwa Negeri Kedah masa tuu, "Ishh hangpa jangan dok buat reja lagutuuuuuu.. Hangpa buat keputusan tapi tak panggil langsung Tuan punya badan.. Aku tau dia memang mengaji betul² dengan Pak Da 'Eil Mekah, memang dia mengaji sungguh², bukan calang² Ulama' Pak Da 'Eil ni.."


Lalu depa buat mesyuarat pulak dah kemudian depa membatalkan arahan pulak dahhh.. Maka Syeikh Tajuddin pun pesan sungguh² kat semua AJK Fatwa Negeri Kedah masa tuu, "Hangpa jangan dok buat lagutu dah lepas ni, maluuu kat oranggggg, maluuuuu kat oranggggg.."


Selepas peristiwa tuu, Almarhum Tuan Guru Hj. Salleh Musa رحمه الله teruih mengajaq dan mengajaq, berkembang punya berkembang, orang pun makin lama makin ramai dok mai mengaji, maka ramailah orang pakat terima Kitab Bakurah ni termasuklah kawan beliau pun mengajaq Kitab Bakurah ni, Almarhum Tuan Guru Hj. Man Guar Kepayang رحمه الله.. Anak² murid Tuan Guru Hj. Man Guar Kepayang ada lagi dua orang yang duduk di Pondok Guar Kepayang iaitu Ustaz Noh & Ustaz Pak Long Mi..


Sambung lagi, lepas daripada tuu, Pak Da 'Eil pun pulang ke Mekah.. Selang beberapa tahun yang agak lama, pelajar² Pondok hat yang dok bahas dulu ni, depa pi buat Haji di Mekah lalu depa pun pi ziarah Pak Da 'Eil.. Depa mintak pulak kat Pak Da 'Eil supaya beliau tolong karang kitab tauhid khusus bagi mensyarahkan risalah hat yang Pak Da 'Eil tulis kat Hj. Mad Hassan.. Mintak Pak Da 'Eil buat Syarah Kitab Bakurah ni, terang bagi elok hat mana satu Pak Da 'Eil ubah & mana satu jalan dia.. Jadi Pak Da 'Eil pun pikiaq lama, inilah Ulama', tak gopoh gapah, apa yang nak dibuat pasti akan dipikiaqkan dahulu..


Maka Pak Da 'Eil pun mencari-cari & mencuri-curi masa yang kosong, cari masa yang lapang, kerana beliau sangat sibuk dengan jadual pengajiannya, Pak Da 'Eil ni Tok Guru, jadual beliau sangat padat dengan mengajaq.. Jadi Pak Da 'Eil pun cari masa, kemudian beliau menyelitkan & menyulamkan di antara matan dengan matan untuk buat Syarah dengan macam² tafsiran yang beliau ambik daripada Kitab² Tauhid hat yang Arab punya, beliau ambik sikit & beliau selitkan sekali di dalam syarah dengan gaya tulisan yang sangat terang & jelas supaya kita semua boleh nampak & boleh faham.. Kalau orang yang hatinya ada ilmu, maka dia akan puas hati dengan Syarah yang Pak Da 'Eil tulis ni, sebab memang jelas dan keliaaaa sungguh apa yang Pak Da 'Eil hurai dalam Syarahnya..


Saya kalau baca Kitab Bakurah ni, jadi semangat nak baca sampai pecah peluh, tapi kalau baca kitab yang lain, jadi kurang sikit.. Kitab Bakurah ni rasanya lain daripada kitab² yang lain sebab kitab ni sangat sedap, Allah Ta'ala bagi keberkatan pada kitab ni.. Kitab hat yang lain pun berkat jugak, tapi Kitab Bakurah ni sedap dia tuu taktau nak habaq lagumana tapi memang sedap.. Kalaulah Pak Da 'Eil tak tulis Kitab Bakurah ni, maka kita ni takkan boleh nak mengaji hat jalan yang beliau faham & pegang ni..


Oleh kerana Pak Da 'Eil dah tulis, alhamdulillah, semua pakat boleh mengaji belaka kitab ni melitupi seluruh bumi nusantara ni.. Walaupun beliau sudah lama meninggalkan kita, tapi ilmu beliau masih HIDUP sampailah ke harini..Kalau kita mengaji Tauhid tapi tak mengaji Kitab Bakurah dulu, umpama macam kita BUAT GULAI TAPI TAKDAK GARAM.. Kena mengaji Kitab Bakurah dulu baru kita dapat rasa sedapnya ilmu Tauhid ni..


Jadi, kitab yang kita mengaji ni ada dua kitab, yang pertama adalah Matan yakni hat yang Pak Da 'Eil tulis di Kedah.. Yang kedua, Syarah yakni hat yang Pak Da 'Eil tulis di Mekah.. Dan akhir sekali Pak Da 'Eil bagi nama kepada kitab yang disyarahnya yakni تبصرة الأداني بألحان باكورة الأماني ertinya MEMPERJELAS BAGI ORANG YANG BELUM MENGUASAI ILMU MEMAHAMI AKAN HALA TUJU PERCAKAPAN DAN SINDIRAN-SINDIRAN CAKAPAN BUAH SULUNG YANG DINANTI-NANTI..


Kemudiannya, Pak Da 'Eil berdoa agar dengan Kitab Bakurah ni, orang² yang tak ambik peduli langsung bab ilmu Tauhid, supaya Allah Ta'ala bukakan mata hati orang yang terpejam & tolong sedaqkan diri orang yang masih terkial-kial kelemasan di dalam lautan kelalaian kerana ilmu Tauhid ni sebenarnya sudah tersimpan lama dah dalam Kitab² Arab & sudah ramai dah Ahli² Tauhid yang mengajarkannya namun orang ramai takmau ambik peduli.. Inilah Ulama', mereka cukup ambik peduli terhadap ummah, Ulama' ni cukup² sayang kat ummah..


Dan Pak Da 'Eil berdoa agar Kitab Bakurah ni boleh memberi manfaat kepada orang² yang rendah ilmunya, orang² yang baru mengaji & kepada orang² yang 'alim ilmunya.. Ertinya semua orang boleh mengaji Kitab Bakurah ni, orang yang baru nak mengaji pun boleh mengaji, orang awam boleh mengaji bahkan orang yang dah 'alim pun boleh mengaji.. Inilah kelebihan yang Allah Ta'ala bagi kepada para Ulama' yang mengajaq secara talaqqi, macam Almarhum Tuan Guru Hj. Salleh Musa رحمه الله ketika mengajaq, hat yang duduk dalam majlis beliau ada hat yang Tok² Guru belaka, hat yang dah lama mengaji pun ada & orang² awam pun ada sekali di dalam satu majlis, semua duduk mengaji sekali, boleh ambik ilmu melalui sistem pengajian talaqqi yang dibawa oleh para 'Alim Ulama' yang mana sistem talaqqi ini sudah diwarisi daripada zaman Sayyiduna Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم lagi.."


Pesan Almarhum Tuan Guru Hj. Salleh Musa رحمه الله تعالى, "Kalau kita dapat kuasai Bakurah, insyaAllah kita dapat faham ilmu Tauhid kerana Bakurah serupa dengan matan yang perlu kita ambik matan tuu untuk karang kitab yang lain.. Pokoknya, semua isi ilmu Tauhid sudah lengkap tersimpan dalam Bakurah.. Kalau boleh kuasai Bakurah maka apabila kita ngaji kitab Tauhid yang lain, akan jadi mudah nak faham.."


Wallahu'alam, moga bermanfaat..


#MajlisTaalimPPDHPP

#MisiDanaPembangunanPPDHPP



Guru agama tanpa gaji menerima zakat fisabilillah

 MENJAWAB PROBLEMATIKA USTADZ, KIAI, MADRASAH DAN MASJID MENERIMA ZAKAT *Disarikan dari mutiara kalam Syaikhina KH. Muhammad Najih Maimoen ح...